Saya baru saja tiba dirumah. Tadi kebetulan antar istri ke Indonesia Fashion Week. Sepertinya acara fashion terbesar di Indonesia. Mungkin acara tersebut mau mensejajarkan diri dengan paris fashion week atau newyork fashon week. Yang pasti acara tersebut rame dan mewah. dan tak lupa, baik tenant maupun pengunjungnya semua berbusana modis. Enak dipandang. Tak menyesal selama hampir empat jam saya menemani istri berkeliling stand pameran. Mulai dari acara talkshow, fashion show hingga tawaran produk-produk fashion ada di sana. Sangat cocok bagi anda yang memiliki selera fashion yang tinggi.
Tapi yang jadi fokus saya bukan hanya produk, tapi bagaimana pengusaha fashion tersebut membukukan usahanya. Jujur, pembukuan usaha produksi bisa dibilang pembukuan yang relatif sulit. Kenapa sulit? karena kita harus membukukan bukan hanya proses penjualan atau pembelian atau hal yang terkait dengan kas, melainkan juga harus membukukan pergerakan barang. Kalo di akuntansi salah satunya adalah akuntansi biaya. Setiap progress dari produk harus di jurnal, sehingga kita dapat mengetahui berapa bahan yang digunakan, berapa jumlah bahan yang tengah diproduksi, berapa sisa bahan yang tidak terpakai dan berapa barang yang sudah jadi.
Contoh yang sederhana sih untuk membayangkan rumitnya adalah jika input barang berupa kilogram tapi output dihitung satuan (pcs). Berarti ada konversi dari satuan kilogram ke pcs kan. hufft. Pengalaman bantu istri dalam membukukan usaha bidang fashion menunjukkan bahwa si pemilik usaha (istri) ternyata sama sekali tidak mengetahui apakah usahanya mendapatkan untung atau rugi. Yang ia tahu adalah uang yang masuk dan uang yang keluar. Kemudian, istri juga tidak tahu apa saja biaya yang harus ditekan. Karena melalui pembukuan kita jadi tahu ternyata ada biaya yang tanpa kita sadari keluar dan kita tidak tahu efektivitas dari biaya itu.
Tertarik untuk membukukan usaha fashion anda, yuk diskusi melalui email di nicopascakom@gmail.com
