Saya masih ingat betul momen ini. Ketika itu adik saya datang. Ia baru saja membuka bisnis kecil-kecilan. Usaha bimbingan belajar. Ia mengatakan murid yang mengikuti bimbingan belajar itu sudah banyak. dan terus bertambah. Sementara, tempat belajar sudah tidak muat lagi. Tentu mendengar kabar tersebut saya sungguh senang. Dengan usianya yang masih muda, kira-kira 18 tahun dan selepas lulus SMA, ia sudah bisa berbisnis. Menunjukkan perkembangan yang signifikan pula.
Malam itu ia datang lagi kepada saya. Jarang-jarang ia datang kerumah, kebetulan saya sudah tinggal sendiri. Ia minta agar usahanya dibantu. Ia ingin memiliki bisnis yang besar agar bisa mandiri. Tidak tergantung orang tua. Tapi, seperti usaha umkm pada umumnya, ia terkendala modal. Kebetulan disaat yang bersamaan kami berencana membeli rumah pertama kami. Memang pada waktu itu kami memiliki tabungan. Lumayanlah, hasil kerja bertahun-tahun.
Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Disinilah hal itu berawal.
Adik saya berujar "bang, ini usaha beda dengan yang lain. lo gak perlu stok barang. kalo stok barang kan kalo gak laku barang bisa busuk, bisa rusak. beda dengan bisnis ini. Lo gak perlu beli barang. cuma inventaris aja. Paling cuma biaya operasional". Lucunya pada saat itu saya tengah kuliah akuntansi. Dan tidak memikirkan pendapat yang adik saya ucapkan, saya hanya meng-iya-kan pendapat adik saya itu.
Lalu untuk lebih meyakinkan, saya minta ia membuat rencana bisnis. Berapa yang ia butuhkan. Berapa yang telah jalan selama ini. Berapa murid yang ada. Berapa guru yang ada. Kebutuhan apa yang dibutuhkan supaya usaha berjalan. Saya pikir dengan adanya rencana bisnis itu, saya akan mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai usaha yang akan saya geluti nantinya. Sama halnya ketika seorang investor ingin melakukan investasi pada sebuah bisnis.
Setelah hampir dua hari, rencana bisnis itu disampaikan kepada saya. Posisi awal, jumlah guru yang digunakan ada 3 orang. jumlah murid yang ada kira-kira 20 orang (jika tidak salah ingat). jumlah kelas ada 2. Kebutuhan operasional berupa spidol, penghapus, dan listrik. Dalam hati saya hanya berkomentar "hmm..bisnis ini punya prospek, walaupun dilaksanakan secara sederhana tapi usaha tetap berjalan.
Setelah mencari informasi sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung dengan bisnis adik. Tidak langsung 100%, tapi secara bertahap. Tabungan tidak jadi saya pakai, tapi saya sisihan dari gaji yang saya terima terima tiap bulannya.
Awalnya, konsep bisnis kami jalankan secara door-todoor. Konsep ini mengubah konsep bisnis dari bimbel rumahan ke bimbel privat. Tiap minggu kami mencetak brosur dan pamflet sebanyak mungkin dan menyebarkan ke rumah-rumah di hampir seluruh jakarta. Dari 1000 lembar pamflet yang kami sebarkan ada 4-10 telepon yang menanggapi. Dari 4-10 telepon ada 1 atau 2 peserta yang ambil kursus di tempat kami. Lumayan. Dalam kurun 3 bulan, usaha sudah bisa membiayai dirinya sendiri.
Tarif yang kami gunakan juga tarif normal. Artinya kami menggunakan tarif yang tidak jauh beda dengan pasar. Namun,sistem kami unik. Istilahnya kami fasilitator belajar anak tersebut. Setelah waktu berjalan, bimbel kami menujukkan pertumbuhan yang cukup signifikan.
Namun, usaha kami menghadapi tantangan. pertama, konsep fasilitasi tidak bisa dijalankan dengan sempurna. Hal ini disebabkan karena jalanan Jakarta yang semakin macet. Sebelumnya, kami bisa mengantarkan 4-5 orang guru dalam satu hari. tapi karena macet, kami hanya bisa mengantar 1 orang guru dalam satu hari. Kedua, adanya kecurangan. Ya ternyata ada oknum guru yang mengambil biaya yang seharusnya dibayarkan kepada manajemen. Dengan dalih atas perintah manajemen, oknum ini mengambil seluruh pendapatan dari orang tua. Alhasil, uang kami habis dicuri. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kami. Kami pikir, profesi ini sangat mulia, sehingga tidak mungkin rasanya ada pencurian. Cuma kenyataan berkata lain.
Makin macetnya Jakarta ditambah kasus kecurian, membuat usaha kami bangkrut! ya bangkrut, karena pendapatan tidak mampu lagi menutup biaya usaha.
Setelah berapa lama, adik saya datang lagi. Mendorong saya untuk membiayai bisnis bimbelnya lagi. Kali ini ia meminta untuk kembali membuka usaha bimbel di garasi yang sebelumnya dijalankan. Beberapa kali ia datang, dan akhirnya saya putuskan untuk membuat bimbel di pinggir jalan dengan menyewa rumah!
Skip-skip-skip (untuk detailnya saya akan ceritakan di post yang berbeda)
Singkatnya, usaha tidak berjalan dengan lancar. Bisa dibilang usaha ini menjadi titik terendah dalam keuangan hidup saya. Sampai-sampai saya harus berhutang dalam jumlah yang banyak di lembaga keuangan.
Yang saya pelajari dari usaha yang gagal ini ini adalah pertama, rencanakan usaha dengan matang. Jangan cuma melihat untungnya saja. Kedua, resiko keuangan itu nyata, walaupun diatas kertas ia kecil tapi itu sangat berdampak pada hidup anda. Ketiga, sebelum eksekusi usaha atau bisnis, ada baiknya berkonsultasi dengan perencana keuangan. Kenapa butuh perencana keuangan? karena hitung-hitungan yang anda buat tidak objektif! anda harus akui itu tidak objektif karena anda secara personal sangat terpengaruh dengan rencana itu. Kehadiran perencana keuangan setidaknya dapat memberi anda perspektif lain dalam memulai usaha. Hal ini tentu saja dapat mencegah keuangan dan kehidupan pribadi anda dari kesalahan mengambil keputusan.
Keempat, pembukuan usaha itu penting. Walaupun usaha dijalankan secara bersama oleh saudara, namun untuk urusan uang sangat sensitif. Tentu anda tidak ingin jalinan persaudaraan anda terusik gara-gara uang bukan? Kelima, untuk usaha, apalagi untuk bidang yang sama sekali tidak anda kuasai, jangan dibiayai dari hutang. Apalagi hutang kepada rentenir. Keenam, lakukan riset, terutama riset terhadap persaingan. Tanpa saya sadari ternyata usaha kami juga bersaing dengan bisnis serupa yang online. Makanya kami tidak menyadari ketika jumlah murid menurun, ternyata mereka menggunakan jasa online. Ketujuh, usaha kalau bisa online. Sewa tempat usaha sangatlah mahal. Hal ini membuat kita tidak mampu bersaing dengan bisnis online. Sewa tempat harus dilakukan apabila bisnis anda membutuhkan tempat untuk membangun brand maupun untuk operasional.
kedelapan,.... hmmm saya lanjutkan lagi pada post selanjutnya saja ya. Sudah sore, ada keperluan.
Terima kasih sudah membaca post saya
Tangerang di cuaca yang lembab dan panas pukul 17.58 sore
